Anak-anak jaman sekarang banyak yang
tidak tahu yang namanya kamera analog. Mereka tahunya kamera digital, baik
kamera pocket, dslr maupun kamera hp. Beruntung saya mengerti perkembangan
kamera analog dan digital.
Saat dulu memakai kamera analog, bisa
dipastikan jarang sekali ada foto selfie yang aneh-aneh. Kamera analog memakai negatif
film untuk menangkap gambar, sedang
dijaman digital sekarang negatif film diganti dengan sensor. Foto yang dihasilkan dari kamera analog berkisar 36 foto ditambah 4 bonus.
Sebelum semua negatif film di pakai
maka belum ada foto yang akan dicuci/dicetak. Sebenarnya kita bisa mencetak
saat negatif film kita pakai setengahnya, tapi jarang yang melakukan hal
tersebut. Jadi bisa dibayangkan pada waktu itu, setiap mengambil foto, tidak ada yang langsung
bisa dilihat hasilnya.
Saya pernah menggunakannya, saat itu
saya sama kawan-kawan ingin selfie (dulu gak ada kata selfie, yang ada foto gaya-gayaan). Pada saat mau difoto, kita selalu berpose
sebaik mungkin supaya hasilnya tidak mengecewakan, karena kita tidak mengenal
mengapus foto di kamera. Tapi kadang saat kita sudah mati-matian bergaya,
selalu saja ada hasil foto yang mengecewakan. Ya itulah resiko memakai kamera
analog.
Nah saat sekarang teknologi sudah berganti,
kamera sudah beralih ke teknologi digital. Dan selfiepun gak mengenal batas,
mau gaya nungging, mau gaya alay berbau lebay, mau gaya cool semuanya bisa kita
lakukan. Dan gegap gempita foto selfiepun akan tertampung di media sosial semacam fb,
ig, twitter de el el. Sayapun tenggelam di euforia teknologi digital tersebut. Ikut foto selfi atau memfoto kawan-kawan,
lalu kita sharing ke media sosial.
Pernah saat saya membuka fb, tetangga
saya yang cantik namanya mbak Riny, memposting foto yang betul-betul
mengenaskan,
alias bukan gaya alay dan lebay yang membabi buta. Difoto itu si mbak terlihat
sedang sedih, mengernyitkan dahi.
Langsung saja saya komen “sedang sedih
ya mbak, kenapa?” tak lupa saya sertakan stiker muka sedih.
Balasan mbak Riny buatku kaget.
“oh...bukan, tadi pagi perutku mulas dek, lalu pas saya boker, iseng-iseng saya
foto selfie.
Eh ternyata seperti ini hasilnya, ku upload deh hehehehe,” gak mau kalah si
mbak pasang stiker muka melet.
“wah kampret nih si mbak” dalam hatiku.
“wah kampret nih si mbak” dalam hatiku.
Yah itulah, apa yang tidak bisa
dilakukan dijaman teknologi yang sudah semakin canggih seperti sekarang. Semua
gaya foto dengan mudah didapat. Media sosialpun juga semakin memanjakan
pengguna untuk memamerkan hasil karya kita. Sayapun ikut tenggelam didalamnya,
hampir tiap hari selalu mantengin medsos. Sambil nungguin hasil karya kawan-kawan yang unik dan lucu
seperti mbak Riny itu.
Dua bulan berlalu, saat saya buka fb,
eh...nongol lagi postingan si mbak cantik yang satu itu. Kali ini fotonya
terlihat semakin sedih, nampak keluar air mata menetes di pipinya. Gak mau terjebak lagi saya
dengan mimik muka si mbak.
Langsung saya komen, “wah mbak, semakin
dramatis ya bokernya, betul-betul menjiwai.” Kali ini saya yang pasang stiker
muka melet.
Gak pake lama, dibalasnya komen saya,
“boker gimana, aku ini sedih dek, tadi pacarku mutusin aku tanpa sebab.” Tak
lupa dipasangnya stiker muka merah padam bertanduk dan bersungut-sungut.
Ups salah lagi deh saya, sambil gerakin
badan seolah-olah kaget macam pak Haji Bolot.
*Foto yang saya sertakan, foto jadul ketika saya selfie
dengan kamera analog.
Untuk foto mbak Riny-nya gak saya sertakan, kalo penasaran, cari sendiri ke om google, mudah-mudahan om googlenya bersedia ngasih.
Untuk foto mbak Riny-nya gak saya sertakan, kalo penasaran, cari sendiri ke om google, mudah-mudahan om googlenya bersedia ngasih.



0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih telah berkunjung ke blog saya, silahkan berkomentar dengan sopan