Membacalah sebelum dipaksa membaca

Minggu, 30 April 2017

Mendadak Kahlil Gibran




Saat saya menyukai lagu-lagu dari band Dewa 19, saya diharu birukan dengan lirik lagunya. Diantara lagu itu adalah, Risalah Hati, Roman Picisan, Selimut Hati, Sayap-sayap patah dan masih banyak lagi. Saat itu saya terkesima dengan pentolan band tersebut. Ya, Ahmad Dhani, buat saya, dia termasuk salah satu pencipta lagu yang bagus.

Ternyata benar dugaan saya, Ahmad Dhani seorang kutu buku. Dia tertarik dengan sastra-sastra timur dan banyak mensadur karya-karya penyair Timur Tengah untuk dijadikan inspirasi lagunya.

Salah satu lagu berjudul “Sayap – sayap patah” sedikit mirip prosanya Kahlil Gibran.

Dan sayapun tertarik juga mencoba merangkai kata-kata seperti prosa dari Kahlil Gibran maupun lagu ciptaan Ahmad Dhani. Meskipun saya tidak yakin hasilnya sebaik dari prosa mereka.

Ini salah satu yang pernah saya tulis dengan judul “Jadi?”


                       Jadi ?

Apa yang terasa bila semua sangat sulit...
Memecahkanya?...akan sia-sia
Ketika terhempas di muka karang
Seribu dendampun tak bermakna

Lihat batu itu juga akan tergores
Walau tetesan air sekalipun
Pelan tapi pasti
Sealiran jatuhnya ke sasaran

Mendongak keatas mengharap hujan
Setetes embun yang didapat
Masih juga menengadah
Tak tersadar cacian katak

Terus berlari menantang punggung gunung
Apa yang didapat
Keindahan?....takjub akan alam?
Atau teriak keras supaya alam mendengar

Akhirnya kembali juga
Tanah datarpun yang akan menyadarkanya
Mengapa mesti dipaksa
Bila tersadar hempasannya

Biarkan saja walau keras kepala
Denting lagu alam yang akan melenakannya
Cobalah meniti ilalang...tak usah direbahkan
Nikmatilah nyanyiannya


Itulah karya saya, hasil coba-coba saya merangkai kata-kata yang terinspirasi oleh Kahlil Gibran dan Ahmad Dhani.



0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung ke blog saya, silahkan berkomentar dengan sopan