Membacalah sebelum dipaksa membaca

Minggu, 30 April 2017

Di madu




Waktu kecil, saya termasuk salah satu anak yang tidak suka dengan cabe. Dan ini yang membuat saya kesal. Setiap kali makan bersama keluarga, makanan saya pasti dihidangkan beda sendiri. Belum lagi kakak-kakak yang sering mengejek, karena saya gak berani makan cabe. Rasanya jadi terasing didalam keluarga saat makan bersama.

Lebih heran lagi kenapa saya gak suka cabe waktu itu. Padahal bapak saya penyuka cabe. Terbayang, saat bapak membuat sambel, dan saat memakannya, sampai keringat keluar dari wajah bapak. Tapi itu dulu, kalo sekarang saya malah jadi setannya cabe, ngalahin cabe setan. Hampir setiap kali makan, jika tidak ada cabe tentu gak akan merasa puas. 

Bicarain cabe sama aja bicarain warga buah-buahan. Akhir-akhir ini kita dimanjakan oleh buah-buahan dengan beragam keunggulannya masing-masing. Dan yang paling menyita perhatian adalah disandingkannya kata “madu” pada nama buah-buahan tersebut. Jadi dimadu bukan monopoli manusia saja, sekarang buahpun banyak juga yang dimadu.

Fenomena ini karena saking pinternya manusia atau hanya strategi bisnis, sayapun gak tahu. Bagi saya cukuplah menikmati buah yang semakin manis rasanya. Tapi kok rasanya jadi latah ya, hampir setiap penjual buah selalu menawarkan buah yang dijualnya dengan embel-embel kata “madu” dibelakang nama buah yang sudah umum kita ketahui. 

Ada jambu madu, ada jeruk madu, salak madu, mangga madu, nanas madu, labu madu, bahkan ubi aja udah dimadu, contohnya ubi cilembu. Wah bisa-bisa si madu sendiri akan protes, namanya disandingin ke nama buah-buahan.

Lama-kelamaan saya jadi berfikir, jangan-jangan nanti akan muncul juga daun pepaya madu, pare madu atau apapun makanan yang pahit-pahit, jadi manis dibuatnya. 

Tapi yang paling bikin saya kesal kalo nantinya muncul juga “cabe madu”. Gimana gak kesal coba, kenapa kok baru saat ini ada cabe madu. Kenapa tidak dari dulu, diwaktu saya kecil. Jadi kan saya gak terasing, waktu makan bersama keluarga. Tidak ada lagi kata-kata ejekan dari kakak-kakak saya. Sayapun bisa menikmati makanan dengan tenang.


0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung ke blog saya, silahkan berkomentar dengan sopan