Membacalah sebelum dipaksa membaca

Kamis, 20 April 2017

Fenomenalnya produk lokal

Satu hal yang selalu terngiang oleh saya sejak jaman sekolah dasar sampai sekarang adalah slogan “Cintailah produk-produk dalam negeri”. Guru SD saya sering berkata “negara Indonesia ini adalah negara yang gemah ripah loh jinawi” yang artinya adalah keadaan bumi pertiwi yang mempunyai alam yang berlimpah. Jadi doktrin yang masuk saat saya masih anak-anak adalah kami tidak mengenal produk dari luar negeri, karena kesemuanya sudah tersedia di Indonesia.

Memasuki sekolah menengah pertama, kembali saya diberi pemahaman dari guru IPS tentang cinta produk dalam negeri, ditengah kebimbangan saya terhadap produk dari luar yang sudah mulai saya kenal. Waktu itu ada beberapa kawan yang memang anak orang mampu, orang tuanya membelikan sepeda BMX merk Raleigh buatan Inggris, sementara orang tua saya hanya sanggup membelikan sepeda buatan lokal. Tapi saya tetap mensyukurinya karena kecintaan saya terhadap negeri ini.

Sewaktu di SMA lebih parah lagi karena hampir semua pergaulan anak remaja sudah mulai mengumbar gengsi dengan memakai produk import, apalagi yang berasal dari negeri paman sam. Rasanya kita dibuat jadi kuper oleh teman-teman bila tidak memakai celana Lewis, Lea dan tetek bengek yang berasal dari negeri polisinya dunia itu. Tapi jiwa saya masih tetap mengatakan bahwa saya harus memajukan negeri ini dengan memakai produk lokal. Maka jadilah saya anak yang paling kuper di SMA pada waktu itu. Kekuperan sayapun menjadi-jadi sewaktu saya pergi kemana-mana hanya memakai sandal jepit merk swallow sementara teman-teman saya memakai sepatu merk Kickers.  

Setelah lulus SMA saya masuk bangku kuliah, disinilah saya sudah mempunyai identitas sendiri tanpa risau dan sungkan apalagi segan kepada sesama kawan kuliah. Apapun yang saya pakai saat itu selalu produk-produk lokal, dan sayapun merasa bangga tanpa merasa kuper sedikitpun. Meskipun beberapa kawan masih banyak yang belum bisa lepas dari sok gaulnya anak-anak SMA. Banyak dari mereka yang masih membanggakan produk asing yang mereka pakai. Dalam hati saya sampai kapan mereka bangga terhadap apa yang mereka pakai dan mereka konsumsi.


Dan inilah masa paling fenomenal akan kecintaan saya terhadap produk lokal, yaitu disaat saya memutuskan untuk menikah. Saya memilih calon istri produk lokal, mungkin ini efek samping dari doktrin-doktrin yang masuk disaat saya SD sampai bangku perguruan tinggi. Tapi anehnya lagi kawan-kawan saya yang pernah satu sekolah sama saya, saat SMP SMA dan kuliahpun dimana mereka dulu bangga terhadap produk asing,  ternyata telah memutuskan mencintai produk lokal, tidak ada satupun kawan saya yang menikah dengan orang asing, apa mungkin mereka sudah insyaf ya?

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung ke blog saya, silahkan berkomentar dengan sopan