Satu hal yang selalu terngiang oleh saya sejak jaman
sekolah dasar sampai sekarang adalah slogan “Cintailah produk-produk dalam
negeri”. Guru SD saya sering berkata “negara Indonesia ini adalah negara yang
gemah ripah loh jinawi” yang artinya adalah keadaan bumi pertiwi yang mempunyai
alam yang berlimpah. Jadi doktrin yang masuk saat saya masih anak-anak adalah
kami tidak mengenal produk dari luar negeri, karena kesemuanya sudah tersedia
di Indonesia.
Memasuki sekolah menengah pertama, kembali saya
diberi pemahaman dari guru IPS tentang cinta produk dalam negeri, ditengah
kebimbangan saya terhadap produk dari luar yang sudah mulai saya kenal. Waktu itu
ada beberapa kawan yang memang anak orang mampu, orang tuanya membelikan
sepeda BMX merk Raleigh buatan Inggris, sementara orang tua saya hanya sanggup
membelikan sepeda buatan lokal. Tapi saya tetap mensyukurinya karena kecintaan
saya terhadap negeri ini.
Sewaktu di SMA lebih parah lagi karena hampir semua
pergaulan anak remaja sudah mulai mengumbar gengsi dengan memakai produk
import, apalagi yang berasal dari negeri paman sam. Rasanya kita dibuat jadi
kuper oleh teman-teman bila tidak memakai celana Lewis, Lea dan tetek bengek
yang berasal dari negeri polisinya dunia itu. Tapi jiwa saya masih tetap
mengatakan bahwa saya harus memajukan negeri ini dengan memakai produk lokal. Maka
jadilah saya anak yang paling kuper di SMA pada waktu itu. Kekuperan sayapun
menjadi-jadi sewaktu saya pergi kemana-mana hanya memakai sandal jepit merk
swallow sementara teman-teman saya memakai sepatu merk Kickers.
Setelah lulus SMA saya masuk bangku kuliah, disinilah
saya sudah mempunyai identitas sendiri tanpa risau dan sungkan apalagi segan
kepada sesama kawan kuliah. Apapun yang saya pakai saat itu selalu
produk-produk lokal, dan sayapun merasa bangga tanpa merasa kuper sedikitpun. Meskipun
beberapa kawan masih banyak yang belum bisa lepas dari sok gaulnya anak-anak
SMA. Banyak dari mereka yang masih membanggakan produk asing yang mereka pakai.
Dalam hati saya sampai kapan mereka bangga terhadap apa yang mereka pakai dan mereka
konsumsi.
Dan inilah masa paling fenomenal akan kecintaan saya
terhadap produk lokal, yaitu disaat saya memutuskan untuk menikah. Saya memilih
calon istri produk lokal, mungkin ini efek samping dari doktrin-doktrin yang
masuk disaat saya SD sampai bangku perguruan tinggi. Tapi anehnya lagi kawan-kawan
saya yang pernah satu sekolah sama saya, saat SMP SMA dan kuliahpun dimana
mereka dulu bangga terhadap produk asing, ternyata telah memutuskan mencintai produk lokal,
tidak ada satupun kawan saya yang menikah dengan orang asing, apa mungkin
mereka sudah insyaf ya?


0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih telah berkunjung ke blog saya, silahkan berkomentar dengan sopan