Membacalah sebelum dipaksa membaca

Minggu, 23 April 2017

Renungan Kloset ala Si Oneng




Siapa yang tidak kenal dengan mbak Rieke Diah Pitaloka anggota DPR RI komisi IX yang membidangi tenaga kerja, transmigrasi dan kesehatan. Mbak Rieke mantan artis yang terkenal dengan sosok “Oneng” di komedi Bajai Bajuri. Dia juga pandai menulis, terutama puisi, puisi-puisi tersebut dirangkum dalam buku “Renungan Kloset”.

Tapi bukan tentang si mbak Oneng ini yang akan saya ulas. Saya dari dulu punya keinginan untuk menulis, entah itu cerpen, puisi, lagu atau apapun, yang penting saya dapat menuangkan ide-ide ke dalam tulisan. Namun apa yang terjadi, buntu, mentok, macet. Sepertinya ide-ide dikepala ini selalu takluk bila tangan sudah memegang keyboard.  

Suatu hari saya menonton berita infotainment. Disitu muncul si Oneng yang cantik, diberitakan Oneng menulis cerita-cerita maupun puisi yang sangat bagus dan dibukukan dalam buku “Renungan Kloset”.

Tapi bukannya saya terus tertarik untuk membeli buku itu, trus membacanya. Saya hanya berfikir, “jangan-jangan, si Oneng ini menulis puisi ataupun cerita tersebut karena terilhami saat merenung di kloset”.

Keinginan menyamai si Oneng, sangat menggebu-gebu di kepala saya. Dan akhirnya keingingan itu mulai terwujud. Setiap pagi, ritual utama saya menabung di kamar mandi yang sering saya lakukan, mulai saya sisipi untuk merenung. Dan ternyata benar, banyak hal-hal yang saya dapatkan dalam renungan kloset saya. Hal tersebut memudahkan saya untuk menuangkan ke dalam tulisan.

Tapi apa daya, bencana itu datang lagi disaat tangan saya berada diatas keyboard. Bukannya buntu, mentok maupun macet. Tapi, ide-ide yang muncul di renungan kloset saya, tidak begitu ampuh dan manjur untuk dituangkan menjadi tulisan, apalagi puisi. Saat saya mulai menulis, yang terbayang malah pisang mengapung, bau parfum yang udah berusia jutaan tahun, licinnya dinding kamar mandi, lumut yang nempel di antara dinding keramik, dan apapun yang ada di kamar mandi tersebut.

Entah apa yang salah dari saya, cara merenung di kloset sudah saya lakukan. Hingga sekarangpun, saya belum mendapatkan manfaat yang berarti dari renungan kloset saya, melainkan rasa lega didalam perut saya yang selalu berontak tiap pagi hari.

Sayapun tidak tahu pasti, apakah hasil tulisan si Oneng itu lahir di ritual rengungan kloset.  

Apakah saya harus membeli buku si mbak Oneng yang fenomenal tersebut ya. Tapi saya juga ragu, manfaat signifikan dari buku tersebut pada kemampuan saya menulis.

Ah sudahlah, sepertinya saya harus melupakan “Renungan Kloset” nya si Oneng. Tapi tidak dengan si Oneng yang di Bajai Bajuri.

Foto by Catur Wawan Prasetyono



0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung ke blog saya, silahkan berkomentar dengan sopan