Membacalah sebelum dipaksa membaca

Minggu, 16 April 2017

Gangsal diantara orang “Bodoh” dan “Pintar”




Entah iseng-iseng atau memang ingin menggali ilmu dari seorang pebisnis sukses seperti Bob Sadino, yang jelas terjadi dialog antara Gangsal dengan pengusaha sukses tersebut. Seperti biasa Gangsal yang selalu banyak ide, pandai menganalisis, dan pintar dalam berbagai pertimbangan terhadap suatu persoalan,  berkunjung ke rumah kediaman Bob Sadino di kebayoran baru.  Singkat kata mereka berdua bertemu. Gangsal disambut Bob Sadino dan dipersilahkan duduk. Dalam hati Gangsal kala itu tertegun dengan penampilan sang pebisnis tersebut. Gangsal yang biasa berpenampilan rapi di hadapkan dengan seorang yang berpenampilan seadanya. Ya Bob Sadino memang seorang enterprenuer yang nyentrik dengan berpenampilan sederhana, memakai celana pendek, dan kemeja, rambut yang sudah memutih kadang dia tutup dengan topi ala koboi, dalam situasi apapun, entah bertemu dengan pejabat negara atau rakyat biasa. Di era presiden Soeharto si pengusaha ini pernah berjumpa dengan pak Soeharto, meskipun berjumpa dengan orang nomor satu di Indonesia Bob Sadino hanya memakai celana pendek, kebayang tidak tuh gokilnya si om Bob ini.
Kembali ke pertemuan si Oemar Bakrie dengan Bob Sadino, “silahkan duduk” kata Bob Sadino. Lalu Gangsal-pun segera duduk di salah satu kursi pada ruang tamu tersebut. Mereka berdua saling berkenalan, didahului oleh Gangsal yang bertandang alias tamu di rumah Bob Sadino.
“Pak Bob saya mau bertanya tentang kiat-kiat menjadi pebisnis sukses seperti anda” tanya Gangsal. “apakah seorang pebisnis sukses seperti anda ini harus pintar dan banyak memiliki ide supaya bisnisnya dapat berjalan lancar?” tanya Gangsal.
“Orang “pintar” biasanya banyak ide, bahkan mungkin telalu banyak ide, sehingga tidak satupun yang menjadi kenyataan. Sedangkan orang “bodoh” mungkin hanya punya satu ide dan satu itulah yang menjadi pilihan usahanya” jawab Bob Sadino.
Dengan garuk-garuk kepala Gangsal menyelami jawaban Bob Sadino, dan dia mencoba untuk menganalisis dari jawaban tersebut. Dalam hati dia berkata, “banyak sekali ide-ide yang muncul dalam kepalaku ini, tapi memang benar tak ada satupun yang dapat beranjak untuk memulai bisnis” ehm gumam Gangsal.
Lalu munculah pertanyaan kedua dari Gangsal. “apakah orang yang pandai menganalisis sesuatu dapat menjadi seorang pengusaha  yang sukses pak?” tanyanya lagi.
“Sebagian besar orang “pintar” sangat pintar menganalisis. Setiap satu ide bisnis, dianalisis dengan sangat lengkap, mulai dari modal, untung rugi sampai break event point. Orang “bodoh” tidak pandai menganalisis, sehingga lebih cepat memulai usahanya”, jawab Bob Sadino.
Bagai terkena petir di siang hari, Gangsal terperanjat mendengar jawaban Bob Sadino. Lalu dia berkaca pada diri sendiri, sebagai seorang yang pandai menganalisis suatu persoalan. Ternyata hal tersebut bukanlah salah satu nilai lebih dalam hal memulai bisnis.
Sejenak Gangsal mempertimbangkan kedua jawaban tersebut. Dari mana Bob Sadino bisa sukses sebagai pengusaha dengan kedua jawaban tersebut. Rasa penat karena mempertimbangkan jawaban Bob Sadino, memunculkan pertanyaan ketiga darinya.
“Dalam memulai usahanya apakah seseorang harus pandai mempertimbangkan hal-hal bisnisnya pak?” tanyanya lagi.
“Orang “bodoh” biasanya lebih berani dibanding orang “pintar”, kenapa ? Karena orang bodoh sering tidak berpikir panjang atau banyak pertimbangan. Dia nothing to lose. Sebaliknya, orang pintar telalu banyak pertimbangan”, jawab Bob Sadino.
Sekali lagi Gangsal tersentak dengan jawaban Om Bob Sadino. Lalu dalam hatinya dia bertanya “sebenarnya Bob Sadino ini orang bodoh atau orang pintar sih?”
Kali ini Gangsal tidak pandai lagi  menganalisa dari jawaban-jawaban Bob Sadino lalu dia belajar memutuskan sesuatu yaitu pada pertanyaan terakhir.
“saya ingin tahu kesimpulan dari jawaban-jawaban bapak untuk menjadi pengusaha sukes seperti anda?” tanya Gangsal.
“Jadilah bodoh jika ingin menjadi pengusaha sukses” jawab Bob Sadino.
Tidak ada lagi tergambar raut muka yang keheranan ataupun terperanjat yang diperlihatkan Gangsal kali ini mendengar jawaban Bob Sadino. Dan tanpa ada pertanyaan selanjutnya, karena dia pasti berpikir jika dilontarkan pertanyaan-pertanyaan lagi pasti jawabannya adalah sama, jadilah orang bodoh dalam memulai usaha. Karena orang bodoh tidak perlu mempertimgkan pemasaran, memulai usaha, yang pasti semua berjalan apa adanya. Meskipun jika dilihat kari aspek bisnis tidak bisa diterima tapi tetap saja ilmu bodoh tersebut sangat manjur untuk menjalankan bisnis. Dan ini sudah menjadi bukti nyata dari seorang Bob Sadino.
Karena dirasa sudah cukup mendapat ilmu “bodoh” dari sang maestro bisnis Indonesia, Oemar Bakri berpamitan pulang. Dengan langkah pasti Gangsal keluar dari kediaman Bob Sadino, diringi seulas senyuman khas sang pebisnis sukses tersebut.

0 komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung ke blog saya, silahkan berkomentar dengan sopan