Pagi hari disalah satu sekolah menengah pertama (SMP), bapak Gangsal
seperti biasa melakukan aktifitasnya yaitu mendidik anak didiknya. Terdengar
lonceng tanda masuk yang dibunyikan oleh guru piket, yang menunjukkan pukul
tujuh pagi. Bergegaslah bapak Gangsal menuju salah satu lokal dimana dia
mengajar.
“Selamat pagi pak”, serentak terdengar suara anak-anak yang sudah
berbaris didepan lokalnya masing-masing. “Selamat pagi”, jawab bapak Gangsal
dengan dengan melemparkan senyum yang tulus kepada anak didiknya. Ucapan
‘selamat pagi’ ini selalu bapak Gangsal dapati disetiap lokal yang dilaluinya.
Maklum karena bapak yang satu ini adalah salah satu guru favorit di sekolah
tersebut.
Sampailah bapak Gangsal disalah satu lokal tempat dia mengajar.
Dimana murid-muridnya sudah berjajar rapi didepan kelas, dengan dibimbing oleh
ketua kelas. Satu persatu murid tersebut masuk ke dalam lokal dengan memberikan
salam kepada bapak Gangsal, yaitu dengan cara mencium tangan gurunya.
Dimulailah pelajaran pertama dari lokal tersebut. Setelah
murid-murid mengucapkan salam yang dilakukan bersama-sama kepada gurunya, bapak
Gangsal memulai pelajarannya. Terdengar salah seorang ana berkata, “pak cerita,
bapak kan sudah lama tidak bercerita di kelas kami”.
“Maaf anak-anak untuk saat ini bapak belum akan bercerita karena
masih ada pelajaran yang harus anak-anak pelajari, sebentar lagi kan kita akan
melaksanakan mid semester”, jawab bapak Gangsal. “Dilain waktu bapak akan
bercerita”, sambungnya.
“Janji ya pak”, serentak anak-anak dengan sedikit merajuk menimpali
janji dari bapak Gangsal.
“Baik anak-anak dalam pelajaran kali ini kita akan mengulas tentang
sejarah terjadinya penjajahan dimuka bumi ini yang dilakukan oleh bangsa-bangsa
Eropa”, begitu bapak Gangsal memulai pelajarannya.
Waktu terus berjalan, demikian juga dengan ilmu yang bapak Gangsal
ajarkan kepada anak-anak didiknya. Dimana sampailah pada penjelasan sebab-sebab
mengapa bangsa Eropa melakukan kolonialisme dan imperialisme. Sebelum menutup
mata pelajaran pada lokal tersebut, seperti biasa dia sedikit memberikan petuah
kepada anak didiknya melalui sebuah cerita yang disisipkan
pertanyaan-pertanyaan kepada anak didiknya. Dan cerita yang disampaikanpun
tidak terlepas dari mata pelajaran yang diajarkan pada hari itu.
“teknologi anak-anak”, kata bapak Gangsal menjelaskan secara panjang
lebar.”Teknologi dapat bermanfaat bagi kehidupan tetapi juga dapat menyebabkan
penderitaan di muka bumi, salah satunya terjadinya penjajahan dimuka bumi.
”Sedikit bapak akan cerita kepada kalian, bapak pernah membaca
disalah satu surat kabar bahwa ada teknologi yang masih asing kita dengar”,
sambungnya.
Selanjutnya bak guru tersebut menjelaskan bahwa ada sebuah kamera
dan handycam yang dibuat oleh sebuah negara maju. Keunggulan kamera ini yaitu
dapat tembus pandang. Bila kamera ini digunakan untuk mengambil gambar
seseorang, meskipun orang tersebut memakai pakaian maka akan terlihat bentuk
tubuhnya. Dengan kata lain baju yang orang kenakan tersebut akan dapat ditembus oleh kamera tersebut.
Jadi nampaklah tubuh orang tersebut. Dijelaskan juga bahwa setelah di
perkenalkan kepada publik, kamera tersebut tidak boleh dijual bebas,
dikarenakan akan memunculkan kejahatan-kejahatan, seperti pelecahan seksual dan
sebagainya.
Mendengar cerita ini anak-anak di kelas tersebut sontak ribut,” wah
asyik dong pak”, kata salah seorang anak, serentak kawannyapun tertawa.
“Baik, kita sekarang berandai-andai”, kata pak Gangsal.
“Kebetulan bapak sudah membeli 40 kamera yang dapat tembus pandang
tersebut”, sambung pak Gangsal. “Nah kamera ini akan bapak bagikan kepada
kalian semua, kebetulan dikelas ini jumlah anak-anak ada 40 jadi pas,
masing-masing mendapatkan satu buah kamera”
“Sudah kalian pegang semua”, tanya pak Gangsal.
“Sudah ini pak” sambil mengacungkan tangannya yang seoalah-olah
memegang sebuah kamera, anak-anak tersebut mulai asyik membidik-bidikkan
kameranya.
“Nah ada pertanyaan dari bapak sekarang, masing-masing dari kalian
bapak akan minta pendapatnya”, sambil menatap satu persatu tingkah anak-anak
yang sedang sibuk saling mengomentari dari kamera yang seolah-olah mereka bawa.
“Dan pertanyaan bapak ini harap kalian jawab dengan jujur”, kembali pak guru
tersebut menegaskan.
“kamu Odie, apa yang akan kamu lakukan dengan kamera yang sekarang
ada dalam genggaman tanganmu itu” tanya pak Gangsal.
“emh…” dengan sedikit malu Odie bergumam, “emh saya jual pak” jawab
Odie kemudian.
“Benar kata kamu itu?”, timpal pak Gangsal sedikit bertanya. “iya
pak” jawab Odie meyakinkan.
“Baiklah kalau begitu, nah kamu Rahmat, apa yang akan kamu lakukan
dengan kamera tersebut”, sambil menunjuk salah satu murid di lokal tersebut
yang agak sedikit bandel.
“apa ya pak, emh akan saya…..sama seperti Odie pak”, jawab Rahmat
“Benar?” sambung pak Gangsal dengan sedikit bertanya kembali kepada
Rahmat. “Benar pak”, jawab Rahmat. Sementara murid-murid yang lain mulai sibuk
menyiapkan jawaban yang akan mereka berikan kepada gurunya tersebut. Ada yang
tersenyum dengan sesama, ada juga yang tertawa kecil, sambil memainkan kedua
tangannya yang ditujukan kepada kawannya.
Setelah beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh pak Gangsal,
dimana pertanyaan tersebut semuanya sama kepada masing-masing siswa. Didapati
jawaban-jawaban yang mengganjal di hati pak Gangsal. Karena jawaban murid-muridnya
tidak seperti yang pak Gangsal pikirkan. Tidak ada jawaban yang sedikit nakal
terlontar dari murid-muridnya, meskipun dari beberapa murid, baik yang
laki-laki maupun yang perempuan saling tertawa dan bahkan ada yang sedikit
nakal mengeluarkan kata-kata, yang mereka ucapkan sangat pelan supaya bapak
gurunya tidak mendengar. Tapi dari gelagat yang mereka sampaikan, pak Gangsal bisa menerka
mereka pasti sedang memikirkan hal-hal agak tabu diucapkan.
“Baiklah anak-anak,” bapak Gangsal mencoba menenangkan anak-anak
tersebut. “Dari jawaban yang kalian lontarkan bapak tidak mendapatkan jawaban
yang jujur dari kalian”.
“Sekarang yang mengandai-andai bapak sendiri”, dengan mengangkat
tangannya bapak Gangsal membidikkan kameranya.
“Apa yang akan bapak lakukan pak”, tanya anak-anak serentak sambil
tertawa bersama melihat gurunya yang berlagak seolah-olah bagai seorang
fotografer.
“Bapak manusia normal anak-anak, kadang-kadang hal yang baik yang
kita dapati di dunia ini, masih juga bercampur dengan hal-hal yang negatif”,
sedikit pak Gangsal menerangkan kepada anak-anak.
“Bapak akan jujur kepada kalian semua, kadang-kadang manusia tidak
lepas dari kilaf, karena setan di sekiling kita ini pasti terus menggoda kita”,
pak Gangsal menasehati anak-anak didiknya.
“Bila bapak memegang kamera ini, bapak akan membidik seorang wanita
cantik”, seru bapak Gangsal.
“ha..ha..ha..ha..” semua anak di lokal tersebut tertawa sambil
saling membidikkan kamera yang seolah-olah mereka pegang kepada lawan jenisnya.
“Sudah-sudah tertawanya”, bapak Gangsal mencoba menenangkan muridnya
supaya dapat tenang kembali.
“Nah sekarang bapak kembali bertanya kepada kalian, Rahmat apa yang
akan lakukan lagi dengan kamera tersebut?” tanya pak Gangsal.
“Seperti yang bapak lakukan, pak”, jawab Rahmat sambil tersenyum
diiringi suara tertawa kawan-kawanya.
“Kamu Bunga, apa yang akan kamu lakukan”, tanya pak Gangsal kepada
salah seorang siswa perempuan.
“Saya akan memfoto Ronald pak” jawab Bunga sambil mengarahkan
tangannya kepada salah seorang kawannya yang bernama Ronald, ini wajar karena
gosip di kelas tersebut mengatakan kalau Bunga tertarik terhadap Ronald. Lalu
tertawalah murid-murid di lokal tersebut sambil menunjuk-nunjuk Bunga dan
Ronald.
Sampai akhirnya terdengarlah suara lonceng untuk pergantian jam
pelajaran. Bergegaslah bapak Gangsal menuju ruang majelis guru.
Didalam ruang tersebut bapak Gangsal menghela nafas panjang. Dalam
hati dia berkata, “ hem…sulitnya mengucapkan sebuah kata jujur, begitu juga
terhadap anak-anak yang masih belum dewasa sekalipun. Karena kata jujur memang
terkadang menyakitkan bila didengar oleh orang yang bersebarangan pendapat
dengan kita”. Sesakit apapun kata itu kita dengar, setabu apapun kata tersebut
kita dengar, jika kita mengucapkannya dari hati yang paling dalam, kita akan
terhindar dari adanya jiwa yang jahat. “Karena kejujuran adalah pangkal dari
kebaikan. Sebaliknya kebohongan adalah pangkal dari kejahatan”.
Segera bapak Gangsal beranjak dari tempat duduknya, dan menuju lokal
tempat dia mengajar pada jam pelajaran selanjutnya.


0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih telah berkunjung ke blog saya, silahkan berkomentar dengan sopan