Membacalah sebelum dipaksa membaca

Minggu, 30 April 2017

Iklan Jomblo


"Aku juga cinta sama kamu,” kenapa iklan seperti ini baru muncul sekarang, kenapa tidak dari dulu munculnya. Buat saya iklan ini bukan mewakili sebuah kartu selular. Lebih tepatnya iklan ini mewakili para jomblowers. Ya para jomblo yang termarjinalkan. Para jomblo yang gak berani nembak gebetan.

Betapa tidak, dulu saya pernah juga berada pada posisi termarjinalkan. Emang enak dikacangin, ya seperti itulah perasaannya jika jadi kaum marginal. Jomblopun juga begitu, saat kawan-kawan lain punya gebetan, kita hanya dapat menikmati kesendirian.

Kadang ada kawan sesama jomblowers mbesarin perasaan hatinya sendiri dengan ngomong “jomblo juga pilihan.”

Ada juga yang berkata, “enakan jomblo daripada ribut melulu sama pasangan”. Nah disinilah para jomblowers tersebut tidak terwakilkan.

Kadang yang menyedihkan, kita tidaklah terlalu buruk-buruk amat, tapi tetap aja gak ada yang mau nempel ke kita. Banyak juga sih alasanya, ada yang nembak-nembak tapi gak dapet. Ada yang coba nembak, tapi gebetan udah punyanya orang. Ada yang gak berani nembak, padahal gebetan udah didepan mata.

Nah bagi yang masih takut-takut nembak cewek dan tetap jadi jomblowers, sekarang kalian udah terwakilkan. Kenapa harus takut, lekas bilang “aku juga cinta sama kamu.” sambil bayangin cowok yang ada di iklan, tidaklah secakep dirimu. Hidup jomblowers.

Sumber foto youtube


Di madu




Waktu kecil, saya termasuk salah satu anak yang tidak suka dengan cabe. Dan ini yang membuat saya kesal. Setiap kali makan bersama keluarga, makanan saya pasti dihidangkan beda sendiri. Belum lagi kakak-kakak yang sering mengejek, karena saya gak berani makan cabe. Rasanya jadi terasing didalam keluarga saat makan bersama.

Lebih heran lagi kenapa saya gak suka cabe waktu itu. Padahal bapak saya penyuka cabe. Terbayang, saat bapak membuat sambel, dan saat memakannya, sampai keringat keluar dari wajah bapak. Tapi itu dulu, kalo sekarang saya malah jadi setannya cabe, ngalahin cabe setan. Hampir setiap kali makan, jika tidak ada cabe tentu gak akan merasa puas. 

Bicarain cabe sama aja bicarain warga buah-buahan. Akhir-akhir ini kita dimanjakan oleh buah-buahan dengan beragam keunggulannya masing-masing. Dan yang paling menyita perhatian adalah disandingkannya kata “madu” pada nama buah-buahan tersebut. Jadi dimadu bukan monopoli manusia saja, sekarang buahpun banyak juga yang dimadu.

Fenomena ini karena saking pinternya manusia atau hanya strategi bisnis, sayapun gak tahu. Bagi saya cukuplah menikmati buah yang semakin manis rasanya. Tapi kok rasanya jadi latah ya, hampir setiap penjual buah selalu menawarkan buah yang dijualnya dengan embel-embel kata “madu” dibelakang nama buah yang sudah umum kita ketahui. 

Ada jambu madu, ada jeruk madu, salak madu, mangga madu, nanas madu, labu madu, bahkan ubi aja udah dimadu, contohnya ubi cilembu. Wah bisa-bisa si madu sendiri akan protes, namanya disandingin ke nama buah-buahan.

Lama-kelamaan saya jadi berfikir, jangan-jangan nanti akan muncul juga daun pepaya madu, pare madu atau apapun makanan yang pahit-pahit, jadi manis dibuatnya. 

Tapi yang paling bikin saya kesal kalo nantinya muncul juga “cabe madu”. Gimana gak kesal coba, kenapa kok baru saat ini ada cabe madu. Kenapa tidak dari dulu, diwaktu saya kecil. Jadi kan saya gak terasing, waktu makan bersama keluarga. Tidak ada lagi kata-kata ejekan dari kakak-kakak saya. Sayapun bisa menikmati makanan dengan tenang.


Mendadak Kahlil Gibran




Saat saya menyukai lagu-lagu dari band Dewa 19, saya diharu birukan dengan lirik lagunya. Diantara lagu itu adalah, Risalah Hati, Roman Picisan, Selimut Hati, Sayap-sayap patah dan masih banyak lagi. Saat itu saya terkesima dengan pentolan band tersebut. Ya, Ahmad Dhani, buat saya, dia termasuk salah satu pencipta lagu yang bagus.

Ternyata benar dugaan saya, Ahmad Dhani seorang kutu buku. Dia tertarik dengan sastra-sastra timur dan banyak mensadur karya-karya penyair Timur Tengah untuk dijadikan inspirasi lagunya.

Salah satu lagu berjudul “Sayap – sayap patah” sedikit mirip prosanya Kahlil Gibran.

Dan sayapun tertarik juga mencoba merangkai kata-kata seperti prosa dari Kahlil Gibran maupun lagu ciptaan Ahmad Dhani. Meskipun saya tidak yakin hasilnya sebaik dari prosa mereka.

Ini salah satu yang pernah saya tulis dengan judul “Jadi?”


                       Jadi ?

Apa yang terasa bila semua sangat sulit...
Memecahkanya?...akan sia-sia
Ketika terhempas di muka karang
Seribu dendampun tak bermakna

Lihat batu itu juga akan tergores
Walau tetesan air sekalipun
Pelan tapi pasti
Sealiran jatuhnya ke sasaran

Mendongak keatas mengharap hujan
Setetes embun yang didapat
Masih juga menengadah
Tak tersadar cacian katak

Terus berlari menantang punggung gunung
Apa yang didapat
Keindahan?....takjub akan alam?
Atau teriak keras supaya alam mendengar

Akhirnya kembali juga
Tanah datarpun yang akan menyadarkanya
Mengapa mesti dipaksa
Bila tersadar hempasannya

Biarkan saja walau keras kepala
Denting lagu alam yang akan melenakannya
Cobalah meniti ilalang...tak usah direbahkan
Nikmatilah nyanyiannya


Itulah karya saya, hasil coba-coba saya merangkai kata-kata yang terinspirasi oleh Kahlil Gibran dan Ahmad Dhani.



Sabtu, 29 April 2017

Latah selebrasi "Evan Dimas"

Buat saya, Evan Dimas adalah pemain sepak bola masa depan Indonesia yang mempunyai permainan sangat bagus. Cara bermainya, pasing yang akurat, tendangan ke gawang lawan yang mematikan. Dengan usia yang masih muda, talenta yang terus diasah, akan membuat masa depanya cerah untuk berkarir di sepak bola.

Kita pernah disuguhi kehebatannya, di ajang piala aff usia 19. Dimana Evan sebagai aktor utama keberhasilan timnas yunior kita menjadi juara. Dan yang membuat kita terhibur, tak terlepas dari selebrasinya setelah mencetak gol. Berlari ke pojok lapangan, dan melakukan sujud syukur.

Terfikir dalam benak saya, seandainya Evan meng"hak paten"kan selebrasinya. Disela-sela dia tetap bermain bola, dia akan mendapatkan tambahan pemasukan diluar bermain bola.

Hampir semua pemain senior di negeri ini, seperti Gonzales, Atep dll, mereka latah meniru selebrasi yuniornya itu, disaat mereka menciptakan gol.

Tapi ah sudahlah, nikmatilah permainan bola dengan selebrasi uniknya, tanpa harus berfikir bisnis.

Kamis, 27 April 2017

Nikmat sehat




Tidak ada yang lebih membahagiakan di dunia ini selain yang namanya “Nikmat Sehat,” yang di berikan Tuhan kepada kita.

Ini terjadi kepada saya, dengan aktifitas yang lumayan padat, dan seolah-olah merasakan tubuh ini kuat. Saya jadi mengabaikan kesehatan. Jalan kesana kemari, seperti orang pecicilan, tubuh ini serasa kuat melakukan kegiatan tanpa tahu akan resiko sakit.

Ternyata benar, sehari setelah saya melakukan perjalanan keluar kota, dan kembali kerumah sampai malam. Maka pada pagi harinya saya merasakan tubuh yang tidak fit seperti biasanya. Tadinya saya mempunyai tekanan darah berkisar 120/90 atau kadang-kadang 110/90. Ternyata saya diberi bonus oleh Tuhan, yaitu tambah tekanan darah, mencapai 145/90.

Pada saat tersebut, terasa pusing, tulisan yang saya lihatpun terasa sama-samar. Jadilah 3 hari ini saya berhenti nulis di blog saya. Dan bonus tensi ini sebagai peringatan saya untuk istirahat dari aktifitas.

Berbahagialah manusia yang masih diberi “Nikmat Sehat.” Tidak ada yang dapat mengalahkan apapun jika kita sudah diberi nikmat yang satu ini dari Tuhan.

Jadi pesan saya kepada sobat-sobat pembaca “Waspadalah, waspadalah, jangan abaikan kesehatan kita, karena sesungguhnya “Sehat” adalah anugerah yang maha Agung yang diberikan Tuhan kepada kita.

Sumber foto Google


Minggu, 23 April 2017

Renungan Kloset ala Si Oneng




Siapa yang tidak kenal dengan mbak Rieke Diah Pitaloka anggota DPR RI komisi IX yang membidangi tenaga kerja, transmigrasi dan kesehatan. Mbak Rieke mantan artis yang terkenal dengan sosok “Oneng” di komedi Bajai Bajuri. Dia juga pandai menulis, terutama puisi, puisi-puisi tersebut dirangkum dalam buku “Renungan Kloset”.

Tapi bukan tentang si mbak Oneng ini yang akan saya ulas. Saya dari dulu punya keinginan untuk menulis, entah itu cerpen, puisi, lagu atau apapun, yang penting saya dapat menuangkan ide-ide ke dalam tulisan. Namun apa yang terjadi, buntu, mentok, macet. Sepertinya ide-ide dikepala ini selalu takluk bila tangan sudah memegang keyboard.  

Suatu hari saya menonton berita infotainment. Disitu muncul si Oneng yang cantik, diberitakan Oneng menulis cerita-cerita maupun puisi yang sangat bagus dan dibukukan dalam buku “Renungan Kloset”.

Tapi bukannya saya terus tertarik untuk membeli buku itu, trus membacanya. Saya hanya berfikir, “jangan-jangan, si Oneng ini menulis puisi ataupun cerita tersebut karena terilhami saat merenung di kloset”.

Keinginan menyamai si Oneng, sangat menggebu-gebu di kepala saya. Dan akhirnya keingingan itu mulai terwujud. Setiap pagi, ritual utama saya menabung di kamar mandi yang sering saya lakukan, mulai saya sisipi untuk merenung. Dan ternyata benar, banyak hal-hal yang saya dapatkan dalam renungan kloset saya. Hal tersebut memudahkan saya untuk menuangkan ke dalam tulisan.

Tapi apa daya, bencana itu datang lagi disaat tangan saya berada diatas keyboard. Bukannya buntu, mentok maupun macet. Tapi, ide-ide yang muncul di renungan kloset saya, tidak begitu ampuh dan manjur untuk dituangkan menjadi tulisan, apalagi puisi. Saat saya mulai menulis, yang terbayang malah pisang mengapung, bau parfum yang udah berusia jutaan tahun, licinnya dinding kamar mandi, lumut yang nempel di antara dinding keramik, dan apapun yang ada di kamar mandi tersebut.

Entah apa yang salah dari saya, cara merenung di kloset sudah saya lakukan. Hingga sekarangpun, saya belum mendapatkan manfaat yang berarti dari renungan kloset saya, melainkan rasa lega didalam perut saya yang selalu berontak tiap pagi hari.

Sayapun tidak tahu pasti, apakah hasil tulisan si Oneng itu lahir di ritual rengungan kloset.  

Apakah saya harus membeli buku si mbak Oneng yang fenomenal tersebut ya. Tapi saya juga ragu, manfaat signifikan dari buku tersebut pada kemampuan saya menulis.

Ah sudahlah, sepertinya saya harus melupakan “Renungan Kloset” nya si Oneng. Tapi tidak dengan si Oneng yang di Bajai Bajuri.

Foto by Catur Wawan Prasetyono



Mirip anak gajah




Gangsal adalah salah satu cowok pecinta alam dan penyayang binatang. Dan dia adalah orang yang kreatif, cerdik dan pintar. Suatu hari dia pergi ke hutan untuk menikmati keindahan alam.

Tanpa terasa dia sudah masuk terlalu dalam di hutan belantara. Diapun kecapekan dan istirahat di bawah sebuah pohon.

Saat asyiknya istirahat, dia dikagetkan dengan suara gajah disekitar dia. Gangsal kaget, lalu beranjak dari tempat duduknya. Ternyata dia sudah dikepung sekumpulan gajah yang terlihat marah. Sadar dirinya dalam bahaya dan tidak ada celah untuk melarikan diri, mulai berpikirlah dia.

Satu persatu baju yang melekat di tubuhnya di lepas. Akhirnya Gangsal sudah tidak memakai sehelai benangpun. Setelah itu, dia melakukan gerakan “kayang” (posisi melengkungkan badan menghadap ke atas dengan bertumpu pada kaki dan tangan di tanah), pelan-pelan dia mulai berjalan.

Ternyata aksi ini mulai membuahkan hasil, beberapa gajah yang mengepung tadi, mulai beranjak pergi menginggalkannya. Dan selamatlah Gangsal dari amukan gajah-gajah tersebut.

Good job Gangsal.


Foto by google