Saat jaman kolonial Belanda, orang-orang yang
diperbolehkan mengenyam pendidikan hanyalah orang-orang Belanda, ataupun
keturunan Belanda dan juga orang yang status ekonominya tinggi (kaya).
Adalah, seorang Raden Mas Soewardi Soeryaningrat yang
keturunan ningrat. Beliau dapat menempuh pendidikan di Sekolah Dasar ELS, dan
melanjutkan ke sekolah Belanda yang bernama STOVIA atau Sekolah Dokter
Bumiputera.
Dengan bekal pendidikan itulah Ki Hajar Dewantara bekerja
sebagai wartawan di beberapa tempat, yaitu Midden Java, Sedyotomo, Oetoesan
Hindia, De Express, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara.
Salah satu filosofi yang dijadikan motto dan slogan
pendidikan Indonesia dari beliau adalah ““Tut Wuri Hadayani” yang
memiliki arti “di Belakang Memberikan Dorongan”. Salah satu kalimat dari ajaran
beliau yang lengkapnya adalah “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mbangun
Karso, Tut Wuri Handayani yang
artinya didepan memberi contoh, ditengah memberi semangat, dibelakang memberi
dorongan.
Pada saat Kabinet pertama Republik Indonesia, Beliau
diangkat menjadi Menteri Pendidikan dan mendapat anugerah gelar Doktor
kehormatan Doctor Honoris Causa, Dr.H.C. dari Universitas Gadjah
Mada (UGM) Yogyakarta pada Tahun 1957.
Pada tanggal 28 November 1959, dikeluarkanlah Surat
Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959. Dimana beliau
dinobatkan sebagai bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Beliau wafat pada
tanggal 26 April 1959 pada usia 70 tahun.
Tepat hari ini juga, beberapa sekolah SMA dan SMK
mengumumkan kelulusan siswa dan siswinya. Seperti yang sering kita lihat, anak-anak
sekolah tersebut merayakan kelulusan dengan mencorat-coret baju almamater
mereka. Entah kapan dimulainya budaya tersebut, karena sampai saat ini budaya
tersebut masih saja terjadi.
Sangat ironis dengan apa yang telah bapak pendidikan
Indonesia kita ajarkan. Termasuk bapak ibu guru disekolah. Para pahlawan tanpa
tanda jasa selalu memberikan karakater kepada generasi muda dengan bekal yang
bermanfaat untuk masa depan mereka. Tetapi tetap saja di akhir pendidikan
mereka, selalu diwarnai dengan hal-hal yang diluar karakter orang-orang
terdidik.
Mudah-mudahan dengan diperingati hari pendidikan nasional
tahun ini, para siswa-siswi harapan bangsa ini ada perubahan dalam merayakan
kelulusannya.
Selamat Hari Pendidikan Nasional. Terima kasih kepada
bapak pendidikan Nasional Indonesia Ki Hajar Dewantara. Semua karya dan baktimu
akan selalu kami kenang.


0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih telah berkunjung ke blog saya, silahkan berkomentar dengan sopan