Saya teringat sewaktu kecil, saat
itu saya bersama kawan-kawan satu kampung sering bermain anggar. Ya anggar,
permainan perang-perangan anak laki-laki dengan menggunakan pedang. Tapi jelas
pedang yang kami pakai bukan pedang dari besi, tapi kami buat dari batang pohon
sono keling. Rasanya senang sekali pada saat saya bisa mengalahkan musuh dalam
hal ini lawan saya yang juga teman saya sendiri.
Sebenarnya permainan anggar ini
adalah representasi dari perang jaman dahulu. Dimana saat belum ditemukannya
senapan. Tentu tujuan utamanya untuk mematikan lawan. Siapa yang lengah akan
tertusuk pedang tersebut dan ajalpun datang.
Saya sendiri jadi heran, kenapa
kok saya senang ya dengan permainan ini. Padahal dalam kenyataannya itu adalah
sebuah ilustrasi peperangan jaman dulu. Apa sih enaknya perang? Jelas buat saya
tidak ada enaknya. Kalo tidak membunuh ya pasti akan terbunuh.
Lebih heran lagi, saat ini
ternyata permainan anggar ini lebih disukai oleh orang-orang dewasa. Bukan anak
kecil lagi yang suka pada permainan anggar ini, ya mungkin dikarenakan
anak-anak sudah terlena dengan hebatnya teknologi gadget.
Bicara orang dewasa yang saat ini
senang dengan permainan anggar sangatlah fenomenal. Bahkan sampai diberitakan
di TV. Tidak tanggung-tanggung media duniapun menyoroti permainan anggar ini. Fenomenalnya
permainan anggar ini, karena sampai-sampai aparat kepolisian yang harus turun tangan
untuk menghentikan permainnya. Tepatnya pada bulan Mei 2017 lalu polisi
menggerebek ratusan laki-laki yang sedang pesta anggar, eh...bukan, yang benar
adalah pesta gay.
Ehm... pesta gay, tahukan? Pesta ini
pasti melibatkan laki-laki sama laki-laki. Ya seperti permainan
anggar-anggaran. Hanya barang yang
dipakai berbeda dengan permainan saya waktu kecil.
Saya jadi teringat kembali,
permainan anggar saya waktu kecil, yang ternyata merepresentasikan perang
sesungguhnya. Yang namanya perang tidaklah enak, eh ternyata malah ada orang
dewasa (laki-laki) saat ini yang suka bermain perang-perangan.
Yah yang namanya "kesenangan" memang aneh, dimata kita hal tersebut tidak menyenangkan, tapi dimata orang lain itu adalah salah satu bentuk kesenangan.


